Minggu, 05 Januari 2014

MEMBUKA AIB ORANG LAIN SAMA DENGAN MEMAKAN BANGKAI ?


Pada dasarnya diharamkan bagi seorang muslim mengungkapkan aib saudaranya karena ini termasuk kedalam perbuatan ghibah, yaitu mengungkapkan aib saudaranya sesama muslim pada saat orang itu tidak ada dihadapannya dan saudaranya itu tidak menyukainya jika berita tersebut sampai kepadanya tanpa adanya suatu keperluan.
Para ulama mengharamkan ghibah ini jika dilakukan tanpa adanya suatu kepentingan bahkah termasuk kedalam kategori dosa besar, sebagaimana disebutkan didalam firman Allah swt :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
Artinya : “Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat : 12)

Didalam shahih Muslim dari hadits al ‘Ala bin Abdurrahman dari ayahnya dari Abu Hurairoh bahwa Nabi saw bersabda,”Tahukah kalian apa itu ghibah?’ para sahabat bertanya,”Allah dan Rasul-Nya lah yang mengetahuinya.” Beliau saw bersabda,”Engkau menyebutkan apa-apa yang tidak disukai oleh saudaramu.’ Beliau saw ditanya,’Apa pendapatmu, jika pada saudaraku itu benar ada apa yang aku katakan?’ beliau saw bersabda,’Jika apa yang engkau katakan itu benar (ada pada saudaramu) maka sungguh engkau telah melakukan ghibah dan jika apa yang engkau katakana itu tidak benar maka engkau telah berdusta.”
Namun ghibah atau menyebutkan aib saudaranya untuk suatu kepentingan maka dibolehkan, dan diantara hal-hal yang dibolehkannya ghibah adalah :

1. Adanya unsur kezhaliman.
Dibolehkan bagi seorang yang dizhalimi untuk mengadukannya kepada penguasa atau hakim atau orang-orang yang memiliki wewenang atau orang yang memiliki kemampuan untuk menghentikan kezhaliman orang yang berbuat zhalim itu kemudian orang itu mengatakan,”Sesungguhnya si A telah merzhalimiku, dia telah berbuat ini kepadaku, dia telah mengambil itu dariku atau sejenisnya.”

2. Meminta pertolongan untuk menghentikan kemunkaran dan mengembalikan orang-orang yang berbuat maksiat kepada kebenaran dengan penjelasannya yang mengatakan kepada orang yang diharapkan kesanggupannya untuk menghilangkan kemunkaran dengan mengatakan,”Si A melakukan ini dan itu maka cegahlah dia, atau perkataan sejenisnya.” Maksudnya adalah untuk menghilangkan kemunkaan dan jika tidak ada maksud yang demikian maka diharamkan.

3. Meminta fatwa, seperti penjelasannya kepada seorang mufti,”Ayahku telah menzhalimiku atau saudaraku atau fulan dengan perbuatan ini. Adakah balasannya ? Bagaimana caranya untuk melepaskan diri dari perbuatan itu dan mendapatkan hakku serta mencegah kezhaliman itu terhadapku?’ atau perkataan-perkatan seperti itu, maka hal ini dibolehkan untuk suatu kepentingan.

Namun yang lebih baik baginya adalah dengan mengatakan,”Bagaimana pendapatmu tentang seorang laki-laki yang melakukan perbuatan ini dan itu, atau seorang suami atau istri yang melakukan ini dan itu atau sejenisnya.” Ia hanya menyampaikan substansinya tanpa menyebutkan orangnya meski jika menyebutkan orangnya pun dibolehkan, berdasarkan hadits Hindun yang mengatakan,”Wahai Rasulullah saw sesungguhnya Abu Sofyan adalah seorang yang kikir…” dan Rasulullah saw tidaklah melarang Hindun.

4. Memberikan peringatan kepada kaum muslimin dari keburukan dan kejahatannya. Hal itu dalam lima bentuk sebagaimana disebutkan Imam Nawawi :
a. Mengungkapkan ‘cacat’ para perawi dan saksi yang memiliki cacat, ini dibolehkan menurut ijma’ bahkan diwajibkan demi menjaga syariah.
b. Memberitahukan dengan cara ghibah saat bermusyawarah dalam permasalahan keluarga besan, atau yang lainnya.
c. Apabila engkau menyaksikan orang yang membeli sesuatu yang mengandung cacat atau sejenisnya lalu engkau mengingatkan si pembeli yang tidak mengetahui perihal itu sebagai suatu nasehat baginya bukan bertujuan menyakitinya atau merusaknya.
d. Apabila engkau menyaksikan seorang yang faqih, berilmu berkali-kali melakukan perbuatan fasiq atau bid’ah sedangkan orang itu menjadi rujukan ilmu sementara kemudharatan yang ada didalam perbuatan itu masih tersembunyi maka hendaklah engkau menasehatinya dan menjelaskan perbuatannya itu dengan tujuan memberikan nasehat.
e. Terhadap seorang yang memiliki kekuasaan (amanah) yang tidak ditunaikan sebagaimana mestinya dikarenakan dirinya tidak memiliki kemampuan atau karena kefasikannya maka hendaklah hal itu diungkapkan kepada orang yang memiliki wewenang atau kemampuan untuk menggantikan orang tersebut dengan orang lain yang lebih mampu, tidak mudah tertipu dan istiqomah.

5. Apabila kefasikan atau bid’ah yang dilakukannya sudah tampak terang maka dibolehkan mengungkapkan yang tampak terang itu saja dan tidak dibolehkan baginya mengungkapkan aib-aib selain itu kecuali jika ada sebab lainnya.

6. Sebagai pengenalan atau pemberitahuan… apabila seseorang telah dikenal dengan gelar si Rabun, si Pincang, si Biru, si Pendek, si Buta, si Buntung atau sejenisnya maka dibolehkan baginya untuk mengenalkannya dengan perkataan itu dan diharamkan menyebutkannya dengan maksud menghinakannya akan tetapi jika dimungkinkan untuk pengenalannya dengan selain gelar-gelar itu maka hal ini lebih utama. (al Mausu’ah al Fiqhiyah juz II hal 11445 – 1146)

Dengan demikian dibolehkan mengungkapkan aib korupsi yang dilakukan para pejabat dikarenakan adanya kemaslahatan didalamnya yaitu untuk menghentikan kezhalimannya yang dapat merugikan negara dan menyengsarakan masyarakat dan agar para pejabat lainnya tidak melakukan perbuatan itu atau pun agar pejabat itu diganti dengan pejabat lainnya yang lebih baik dan amanah.

Mentaati Pemimpin
Selain hadits-hadits yang anda sebutkan diatas yang memerintahkan seorang muslim untuk mendengar dan menaati pemimpinnya maka terdapat hadits-hadits lainnya, diantaranya :
Sabda Rasulullah saw,”Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemui keadaan itu?’ Beliau saw bersabda,”Hendaklah engkau berkomitmen (iltizam) dengan jama’atul muslimin dan imam mereka.” (HR. Bukhori)
Sabda Rasulullah saw,”Barangsiapa yang melepaskan tangannya (baiat) dari suatu keaatan maka ia akan bertemu Allah pada hari kiamat tanpa adanya hujjah (alasan) baginya. Dan barangsiapa mati sementara tanpa ada baiat di lehernya maka ia mati seperti kematian jahiliyah.” (HR. Muslim)

Maksud kata “pemimpin/imam” yang harus didengar dan ditaati didalam hadits-hadits diatas adalah pemimpin seluruh kaum muslimin atau khalifah atau imam syar’iy yang dipilih oleh Ahlu al Halli wa al Aqdi yang merupakan perwakilan dari seluruh kaum muslimin bukan pemimpin suatu organisasi, jama’ah, partai, perkumpulan atau bukan pula penguasa suatu negara, pemimpin suatu daerah atau yang sejenisnya.
Sehingga apabila seorang pemimpin suatu organisasi atau jamaah atau seorang penguasa suatu negeri memerintahkan kemaksiatan walaupun dirinya masih melaksanakan shalat maka ia tidak boleh ditaati karena tidak ada ketaatan didalam maksiat kepada Allah swt, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Tidak ada ketaatan dalam suatu kemaksiatan akan tetapi ketaatan kepada hal yang ma’ruf.” (HR. Bukhori dan Muslim) (eramuslim)

Kamis, 02 Januari 2014

mahfadzot 2





44.              فَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا

44. Balasan suatu kejahatan itu adalah kejahatan yang
      sama dengannya.


45.              تَرْكُ الجَوَابِ عَلىَ الجَاهِلِ جَوَابٌ

45. Tidak menjawab atas orang yang bodoh itu adalah
       jawaban.

46.              مَنْ عَذُبَ لِسَانُهُ كَثُرَ إِخْوَانُهُ

46. Siapa yang manis tutur katanya banyak saudaranya.



47.              إِذَا تَمَّ العَقْلُ قَلَّ الكَلاَمُ

47. Jika akal sempurna sedikit bicara.


48.              مَنْ طَلَبَ أَخًا بِلاَ عَيْبٍ بَقِيَ بَلاَ أَخٍ

48. Siapa yang mencari saudara yang tidak bercela, ia akan
      tetap tidak mempunyai saudara.


49.              قُلِ الحَقَّ وَلَوْ كَانَ مُرًّا

49. Katakan yang benar, walaupun pahit.


50.              خَيْرُ مَالِكَ مَا نَفَعَكَ

50. Sebaik-baik hartamu adalah yang bermanfaat bagimu.


51.              خَيْرُ الأُمُوْرِ أَوْسَاطُهَا

51. Sebaik-baik perkara itu adalah pertengahanya (yang
      sederhana).



52.              لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَالٌ وَلِكُلِّ مَقَالٍ مَقَامٌ

52. Setiap tempat ada pembicaraannya, dan setiap
      pembicaraan ada tempatnya.


53.              إِذاَ لمَ ْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

53. Jika kamu tidak malu, maka perbuatlah apa yang kamu
      kehendaki. 

54.            لَيْسَ العَيْبُ لِمَنْ كَانَ فَقِيْرًا بَلِ العَيْبُ لِمَنْ

      كَانَ بَخِيْلاً
54. Cela itu bukan bagi orang fakir, tapi cela itu bagi orang
      kikir.


55.            لَيْسَ اليَتِيْمُ الَّذِي قَدْ مَاتَ وَالِدُهُ بَلِ اليَتِيْمُ

      يَتِيْمُ العِلْمِ وَالأَدَبِ
55. Yatim bukan yang telah meninggal orang tuanya, tapi
      (sebenarnya) yatim itu adalah yatim ilmu dan budi
      pekerti.


56.            لِكُلِّ عَمَلٍ ثَوَابٌ وَلِكُلِّ كَلاَمٍ جَوَابٌ

56. Setiap pekerjaan itu ada balasannya, dan setiap
      perkataan itu ada jawabannya.


57.              وَعَامِلِ النَّاسَ بِمَا تُحِبُّ مِنْهُمْ دَائِماً

57. Pergaulilah manusia itu dengan apa yang selalu kamu
      inginkan mereka.
  

58.              هَلَكَ امْرُؤٌ لَمْ يَعْرِفْ قَدْرَهُ

58. Orang yang tidak tahu diri itu akan hancur.



59.              رَأْسُ الذُّنُوْبِ الكَذِبُ

59.Pokok dosa itu, adalah kebohongan.


60.              مَنْ ظَلَمَ ظُلِمَ
60. Siapa yang menganiaya akan dianiaya.


61.            لَيْسَ الجَمَالُ بِأَثْوَابٍ تُزَيِّنُنُا إِنَّ الجَمَالَ جمَاَلُ

      العِلْمِ وَالأَدَبِ
61. Kecantikan itu bukan karena pakaian yang menghiasi
      kita, sesungguhnya kecantikan itu ialah kecantikan
  karena ilmu dan kesopanan.



62.            لاَ تَكُنْ رَطْباً فَتُعْصَرَ وَلاَ يَابِسًا فَتُكَسَّرَ

62. Janganlah bersikap lemah, sehingga diperas, dan
      jangan bersikap keras, sehingga dipatahkan.
  

63.              مَنْ أَعاَنَكَ عَلىَ الشَّرِّ ظَلَمَكَ

63. Membantu berbuat jahat berarti ia menganiayamu.


64.            أَخِي لَنْ تَنَالَ العِلْمَ إِلاَّ بِسِتَّةٍ سَأُنْبِيْكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانٍ: ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ
وَدِرْهَمٌ وَصُحْبَةُ أُسْتَاذٍ وَطُوْلُ زَمَانٍ
64. Saudaraku! Kamu tidak akan mendapatkan ilmu,
      kecuali dengan enam perkara, akan aku beritahukan
      perinciannya dengan jelas :
        - Kecerdasan
        - Ketamakan (terhadap ilmu)
        - Kesungguhan
        - Uang (biaya)
        - Dekat dengan Guru
        - Waktu yang lama


65.            العَمَلُ يَجْعَلُ الصَّعْبَ سَهْلاً
65. Berbuat itu menyebabkan yang sukar menjadi mudah.


66.              مَنْ تَأَنَّى نَالَ مَا تَمَنَّى
66. Siapa yang berhati-hati akan mendapatkan apa yang ia
      cita-citakan.

67.              اُطْلُبِ العِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ
67. Tuntutlah ilmu walaupun di negeri Cina.


68.              النَّظَافَةُ مِنَ الإِيْمَانِ
68. Kebersihan itu bagian dari iman.


69.              إِذَا كَبُرَ المَطْلُوْبُ قَلَّ المُسَاعِدُ
69. Jika tuntutan itu besar, maka akan sedikit penolongnya.


70.            لاَ خَيْرَ فيِ لَذَّةٍ تَعْقِبُ نَدَماً
70. Tidak ada kebaikan dalam kenikmatan yang
       mengakibatkan penyesalan.


71.              تَنْظِيْمُ العَمَلِ يُوَفِّرُ نِصْفَ الوَقْتِ
71. Pengaturan pekerjaan menghemat separoh waktu.



 72.                                                                                                                                                        رُبَّ أَخٍ لَمْ تَلِدْهُ وَالِدَةٌ   


72. Kebanyakan saudara itu tidak dilahirkan oleh satu ibu.


73.              دَاوُوْا الغَضَبَ بِالصُّمْتِ
73. Obatilah kemarahan itu dengan diam


74.              الكَلاَمُ يَنْفُذُ مَالاَ تَنْفُذُهُ الإِبَرُ
74. Perkataan itu dapat menembus apa yang tidak bisa
      ditembus oleh jarum.


75.              لَيْسَ كُلُّ مَا يَلْمَعُ ذَهَباً
75. Tidak setiap yang mengkilat itu emas.


76.              سِيْرَةُ المَرْءِ تُنْبِئُ عَنْ سَرِيْرَتِهِ
76. Perilaku seseorang itu menunjukkan rahasianya.


77.              قِيْمَةُ المَرْءِ بِقَدْرِ مَا يُحْسِنُهُ
77. Nilai seseorang itu sebesar kebaikannya.


78.              صَدِيْقُكَ مَنْ أَبْكَاكَ لاَ مَنْ أَضْحَكَكَ
78. Temannmu adalah orang yang membuatmu menangis
bukan orang yang membuatmu tertawa.


79.              عَثْرَةُ القَدَمِ أَسْلَمُ مِنْ عَثْرَةِ اللِّسَانِ
79. Tergelincirnya kaki itu lebih selamat dari pada
       tergelincirnya lidah.


80.              خَيْرُ الكَلاَمِ مَا قَلَّ وَدَلَّ
80. Sebaik-baik pembicaraan itu ialah yang singkat dan
      jelas.


81.              كُلُّ شَئٍ إِذَا كَثُرَ رَخُصَ  إِلاَّ الأَدَبَ
81. Segala sesuatu itu apabila banyak menjadi murah,

kecuali budi pekerti.

       
82.              أَوَّلُ الغَضَبِ جُنُوْنٌ وَآخِرُهُ نَدَمٌ

82. Permulaan marah itu kegilaan dan akhirnya
      penyesalan.


83.              العَبْدُ يُضْرَبُ بِالعَصَا وَالحُرُّ يَكْفِيْهِ بِالإِشَارَةِ
83. Hamba sahaya itu dipukul dengan tongkat, dan orang
      yang merdeka  cukup dengan isyarat.


84.              اُنْظُرْ مَا قَالَ وَلاَ تَنْظُرْ مَنْ قَالَ
84. Lihatlah apa yang dikatakan (diucapkan) dan jangan
      melihat siapa yang mengatakan.


85.              الحَسُوْدُ لاَ يَسُوْدُ
85. Pendengki itu tidak akan mulia.


86.              الأَعْمَالُ بِخَوَاتِمِهَا
  


86. Tiap-tiap pekerjaan itu dengan penyelesaiannya.

mahfadzot 1

1.              مَنْ سَارَ عَلىَ الدَّرْبِ وَصَلَ

1. Siapa berjalan pada jalannya sampai.


2.              مَنْ جَدَّ وَجَدَ

2. Siapa bersungguh-sungguh, mendapat.


3.              مَنْ صَبَرَ ظَفِرَ

3. Siapa yang sabar beruntung.


4.              مَنْ قَلَّ صِدْقُهُ قَلَّ صَدِيْقُهُ

4. Siapa sedikit kejujurannya, sedikit temannya.


5.              جَالِسْ أَهْلَ الصِّدْقِ وَالوَفَاءِ

5. Pergaulilah orang yang punya kejujuran dan ketepatan janji.


6.              مَوَدَّةُ الصَّدِيْقِ تَظْهَرُ وَقْتَ الضِّيْقِ


6. Kecintaan teman itu, tampak pada waktu kesempitan.


7.             وَمَااللَّذَّةُ إِلاَّ بَعْدَ التَّعَب

7. Tidak ada kenikmatan kecuali setelah kepayahan.


8.              الصَّبْرُ يُعِيْنُ عَلىَ كُلِّ عَمَلٍ

8. Kesabaran itu menolong setiap pekerjaan.


9.              جَرِّبْ وَلاَحِظْ تَكُنْ عَارِفًا

9. Coba dan perhatikanlah, niscaya kamu akan menjadi orang yang tahu.


10.            اُطْلُبِ العِلْمَ مِنَ المَهْدِ إِلىَ اللَّحْدِ

10. Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat.


11.              بَيْضَةُ اليَوْمِ خَيْرٌ مِنْ دَجَاجَةِ الغَدِ

11. Telur hari ini lebih baik daripada ayam esok hari.


12.              الوَقْتُ أَثْمَنُ مِنَ الذَّهَبِ
12. Waktu itu lebih mahal daripada emas


13.              العَقْلُ السَّلِيْمُ فيِ الجِسِْم السَّلِيْمِ
13. Akal yang sehat itu ada pada badan yang sehat.


14.              خَيْرُ جَلِيْسٍ فيِ الزَّمَانِ كِتَابٌ

 14. Sebaik-baik teman duduk di setiap waktu adalah buku.


15.              مَنْ يَزْرَعْ يَحْصُدْ
15. Siapa menanam, mengetam.


16.              خَيْرُ الأَصْحَابِ مَنْ يَدُلُّكَ عَلىَ الخَيْرِ

 16. Sebaik-baik sahabat itu yang menunjukkanmu kepada kebaikan.

17.              لَوْلاَ العِلْمُ لَكَانَ النَّاسُ كَاْلبَهَائِمِ

 17. Seandainya tidak ada ilmu niscaya manusia itu seperti
       binatang.    


18.              العِلْمُ فيِ الصِّغَرِ كَالنَّقْشِ عَلىَ الحَجَرِ

18. Ilmu di waktu kecil itu, laksana ukiran di atas batu.

 


19.              لَنْ تَرْجِعَ الأَياَّمُ الَّتيِ مَضَتْ

19. Hari-hari yang telah berlalu itu tidak akan kembali.


20.              تَعَلَّمَنْ صَغِيْرًا وَاعْمَلْ بِهِ كَبِيْرًا

20. Belajarlah di waktu kecil dan amalkanlah di waktu
      besar.


21.              العِلْمُ بِلاَ عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلاَ ثَمَرٍ

21. Ilmu tanpa pengamalan itu bagaikan pohon tak
      berbuah.


22.              الاتِّحَادُ أَسَاسُ النَّجَاحِ

22. Persatuan itu pangkal keberhasilan.


23.              لاَ تَحْتَقِرْ مِسْكِيْنًا وَكُنْ لَهُ مُعِيْناً

23. Jangan menghina orang miskin tetapi jadilah penolong


24.              الشَّرَفُ بِالأَدَبِ لاَ بِالنَّسَبِ

24. Kemuliaan itu karena kebaikan budi pekerti bukan
      keturunan.


25.               سَلاَمَةُ الإِنْسَانِ فيِ حِفْظِ اللِّسَانِ
25. Keselamatan manusia itu ada dalam menjaga lidah.


26.              آدَابُ المَرْءِ خَيْرٌ مِنْ ذَهَبِهِ

26. Kebaikan budi pekerti seseorang itu lebih baik dari
      pada emasnya.


27.              سُوْءُ الخُلُقِ يُعْدِي
27. Budi pekerti yang buruk itu menular.


28.              آفَةُ العِلْمِ النِّسْياَنُ

28. Penyakit ilmu itu adalah lupa.


29.              إِذَا صَدَقَ العَزْمُ وَضَحَ السَّبِيْلُ

29. Jika kemauan (seseorang) itu kuat maka akan jelas
      jalannya.


30.              لاَ تَحْتَقِرْ مَنْ دُوْنَكَ فَلِكُلِّ شَيْئٍ مَزِيَّةٌ
30. Jangan menghina orang yang lebih rendah daripadamu,
      karena setiap sesuatu itu mempunyai kelebihan.


31.              أَصْلِحْ نَفْسَكَ يَصْلُحْ لَكَ النَّاسُ

31. Perbaikilah dirimu, orang lain akan baik kepadamu.


32.              فَكِّرْ قَبْلَ أَنْ تَعْزِمَ
32. Berpikirlah sebelum kamu memutuskan/merencanakan.



33.              مَنْ عَرَفَ بُعْدَ السَّفَرِ اِسْتَعَدَّ


33. Barangsiapa yang tahu jauhnya perjalanan, ia akan bersiap-siap

34.              مَنْ حَفَرَ حُفْرَةً وَقَعَ فِيْهَا

34. Siapa yang menggali lubang, ia  akan terperosok ke
      dalamnya.


35.              عَدُوٌّ عَاقِلٌ خَيْرٌ مِنْ صَدِيْقٍ جَاهِلٍ

35. Musuh yang pandai itu lebih baik daripada teman yang
      bodoh.


36.              مَنْ كَثُرَ إِحْسَانُهُ كَثُرَ إِخْوَانُهُ

36. Siapa yang banyak perbuatan baiknya, banyak
      saudaranya.


37.              اِجْهَدْ وَلاَ تَكْسَلْ وَلاَ تَكُ غَافِلاً فَنَدَامَةُ

        العُقْبىَ لِمَنْ يَتَكاَسَلُ
37. Bersungguh-sungguhlah, jangan bermala-malas, dan
      jangan lengah, karena penyesalan itu atas orang yang
      bermalas-malas.


38.            لاَ تُؤَخِّرْ عَمَلَكَ إِلىَ الغَدِ مَا تَقْدِرُ أَنْ تَعْمَلَهُ

اليَوْمَ
38. Janganlah menunda pekerjaanmu hingga esok hari, jika
      kamu dapat mengerjakannya hari ini.


39.            اُتْرُكِ الشَّرَّ يَتْرُكْكَ

39. Tinggalkanlah keburukanmu, keburukan itu akan
       meninggalkanmu.


40.            خَيْرُ النَّاسِ أَحْسَنُهُمْ خُلُقاً وَأَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
40. Sebaik-baik manusia itu, ialah yang paling baik budi
      pekertinya dan yang paling bermanfaat bagi manusia.


41.              فيِ التَّأَنِّي السَّلاَمَةُ وَفيِ العَجَلَةِ النَّدَامَةُ

41. Di dalam kehati-hatian ada keselamatan, dan di dalam
      ketergesa-gesaan ada penyesalan.



42.              ثَمْرَةُ التَّفْرِيْطِ النَّدَامَةُ وَثَمْرَةُ الحَزْمِ السَّلاَمَةُ

42. Buah kelengahan itu penyesalan, dan buah kecermatan
      itu keselamatan.


43.              الرِّفْقُ بِالضَّعِيْفِ مِنْ خُلُقِ الشَّرِيْفِ

43. kelemah-lembutan kepada orang yang lemah itu adalah
      suatu perangai orang yang mulia.